Skip to content

Revolusi permainan sepak bola

Oktober 18, 2013

Berbagai macam sistem permainan telah dicetuskan oleh pelatih-pelatih hebat di dunia untuk meraih kemenangan. Dari era ke era telah lahir banyak sistem permainan. Di eranya dan mungkin juga hingga saat ini, sistem-sistem permainan tersebut begitu populer dan diadopsi oleh banyak tim.

Di era sebelum piala dunia bergulir, dunia mengenal berbagai macam sistem permainan dengan menumpuk banyak pemain di lini depan dan menyisakan sedikit pemain di lini belakang. Misalnya: formasi 2-2-6, 1-2-7, 1-1-8 dan 2-3-5. Skema permainan saat itu dibuat ke arah mencetak gol secepat mungkin. Sama sekali tidak ada istilah bermain possession football di daerah pertahanan sendiri maupun lawan seperti yang sering terjadi di pertandingan sepakbola modern.

Pada tahun 1925 , perubahan aturan offside  membuat seorang pelatih yang bernama Herbert Chapman mencetuskan sebuah sistem yang dikenal dengan formasi WM. Jika menggunakan sistem angka, formasi WM sama dengan 3-2-2-3.  Pada 1930-an, Arsenal dan hampir semua klub di Inggris sudah menggunakan formasi ini. Akibat skema ini pula, posisi centre back mulai muncul dan menjadi bagian yang sangat vital dari formasi sepakbola modern.

Selain WM, di era 1930-an dunia sepakbola juga mengenal formasi ala pelatih Vittorio Pozzo, yakni 2-3-2-3, hanya menggunakan 2 bek di belakang. Formasi ini begitu populer kala itu karena Vittorio Pozzo berhasil mengantarkan timnas Italia menjadi juara dunia secara beruntun (1934 dan 1938) dengan menggunakan formasi ini.

Di pertengahan era 1930 hingga 1950-an, sebuah gaya permainan sepakbola bertahan yang mengedepankan konsep bek ketiga berhasil mengejutkan dunia. Gaya permainan tersebut bernama verrou. Timnas Swiss yang tanpa bintang saat itu berhasil membuat kejutan di Piala Dunia dengan menggunakan gaya permainan ini, seperti menahan imbang Cekoslowakia dan menaklukkan Italia dengan skor telak 4-1.

Pada era 1950 hingga awal 1960-an, oleh pelatih Nereo Rocco dan Helenio Herrera, sistem verrou dibuat menjadi lebih defensif lagi dan diberi nama catenaccio. Catenaccio kemudian menjadi ciri khas permainan Italia hingga saat ini. Meski demikian, era 1950 hingga awal 1960-an bukan hanya milik catenaccio, namun juga ada formasi 4-2-4 serta gaya jogo bonito milik Brasil. Dengan formasi 4-2-4 serta gaya jogo bonitonya, Brasil berhasil menjadi juara dunia pada 1958. Akantetapi, formasi 4-2-4 tersebut tidak bertahan lama dan tidak bisa diadopsi oleh banyak tim karena dalam formasi tersebut dituntut adanya dua gelandang yang sangat komplit kemampuannya.

Di pertengahan 1960-an atau tepatnya pada Piala Dunia 1966, Inggris tampil dengan formasi 4-4-2 serta gaya kick and rushnya. Saat itu Inggris keluar sebagai juara dunia setelah mengalahkan Jerman Barat. Imbasnya, banyak tim yang mengadopsi formasi 4-4-2 serta gaya kick and rush milik Inggris. Beberapa di antarannya adalah negara Eropa Timur seperti Polandia dan Bulgaria. Di samping itu, melalui formasi 4-4-2 lahirlah konsep tombak (striker) kembar serta konsep gelandang bertahan.

Pada tahun 1970, Brasil kembali menjadi juara dunia. Namun, kali ini tidak dengan formasi 4-2-4 melainkan 4-3-3. Mungkin hal ini dikarenakan sulitnya menemukan gelandang serba bisa yang dituntut pada formasi 4-2-4. Imbas dari keberhasilan Brasil menjadi juara dunia dengan menggunakan formasi 4-3-3 sangat terasa saat itu, dan bahkan hingga saat ini. Banyak tim yang mengadopsi formasi tersebut, termasuk timnas Indonesia dan Barcelona.

Di era 1970-an, dunia kembali dikejutkan oleh sebuah gaya permainan yang mengandalkan permainan kolektivitas tim. Gaya permainan tersebut bernama total football. Adalah timnas Belanda (runner-up Piala Dunia 1974 dan 1978) dan Ajax Amsterdam (juara Piala Champion…..) yang mempopulerkan gaya permainan tersebut. Total football begitu fenomenal dan melegenda. Pasalnya, konsep dari total football itu sendiri sangat luar biasa, yakni semua pemain bertahan harus menjadi penyerang, dan semua penyerang harus menjadi pemain bertahan, sehingga pemain dapat berpindah-pindah posisi setiap saat. Sayangnya, tidak banyak tim yang mampu mengadopsi gaya tersebut. Hal ini dikarenakan total football hanya mampu diperagakan oleh pemain dengan kemampuan fisik dan kecerdasan yang tinggi.

Pada 1980-an hingga awal 1990-an, gaya permainanyang  memadukan unsur skill individu  dan kerja sama para pemain kembali muncul. Gaya permainan tersebut adalah tango milik Argentina yang menjadi juara dunia pada 1986 dan runner up pada tahun 1990. Karakteristik tango yang mengandalkan kecepatan dan kelincahan kaki dalam menggiring bola sangat jelas terlihat pada beberapa pemain Argentina kala itu, seperti Maradona dan Chanigia.

Pada Piala Dunia 1990, Jerman Barat yang diarsiteki pelatih jenius, Franz Beckenbauer,  berhasil menjadi juara dengan menggunakan formasi 3-5-2. Alhasil banyak tim yang mengadopsi sistem permainan ini. Permainan dengan mengandalkan sweeper saat itu mulai banyak diminati orang.

Untuk saat ini, ada dua gaya permainan sepakbola yang dominan, yakni tiki-taka dan parkir bus. Tiki-taka sangat mengandalkan penguasaan bola melalui passing-passing pendeknya, sementara parkir bus merupakan gaya permainan dengan menumpuk pemain di kotak penalti sendiri. Parkir bus dicetuskan oleh pelatih-pelatih yang ingin membendung superioritas dari tiki-taka, seperti Jose Mourinho. Tiki-taka digunakan oleh Barcelona, sementara parkir bus digunakan oleh beberapa tim yang pernah berhadapan dengan Barcelona, seperti Chelsea, Inter Milan dan Glasgow Celtics.

Sumber referensi :
http://groups.yahoo.com/neo/groups/indonesia_damai/conversations/topics/20598

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: